aminherwansyah

Pola Belajar Anak Berubah

Blog Amin Herwansyah | 7 Juni 2020

Kondisi pandemi corona membuat banyak perubahan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya di bidang pendidikan.Sejak Indonesia ditetapkan darurat corona, pemerintah pun memutuskan untuk menutup sementara sekolah-sekolah dan menerapkan proses belajar di rumah sebagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus tersebut.
 
Ya, kini anak-anak diharuskan mengikuti kelas online yang diadakan oleh pihak sekolah, hingga melakukan pembelajaran mandiri. Meski begitu, metode pembelajaran daring dan mandiri tersebut masih sulit diterapkan oleh pendidikan Indonesia karena beberapa sebab. 

Dosen Matematika di Institut Teknologi Bandung, Prof. Iwan Pranoto M.Sc.,Ph.D menjelaskan beberapa penyebabnya, seperti masih banyak pelajar yang tidak memiliki gawai terutama di daerah pelosok, infrastruktur internet di daerah terpencil belum serius dipersiapkan, dan bahan ajar di Internet pun masih sangat terbatas untuk anak. Selain itu, ketidaksiapan siswa belajar tanpa guru menjadi penyebab banyak anak yang tidak semangat belajar dari rumah.

"Kenyataannya kita tidak pernah berpikir bahwa anak harus belajar mandiri. Selain itu, bahan ajar di Indonesia itu masih sifatnya teks dan selalu didesain untuk diajarkan oleh guru. Jadi sifatnya belum visual dan belum bisa tanpa guru. Di masa sekarang ini menjadi masalah karena kita tidak punya keduanya, tidak ada sekolah sebagai tempat ajar dan tidak ada guru. Ditambah anak-anak belum berhasrat untuk belajar secara mandiri," kata Profesor Iwan dalam acara webinar, "Apakah Sekolah Kita akan Kembali Normal Setelah Pandemi Corona", Sabtu (9/5). 

Profesor Iwan juga mengatakan setelah pandemi virus corona berakhir, akan ada perubahan pola belajar anak atau evolusi dalam bidang pendidikan. Salah satunya yang sedang kita alami adalah rumah menjadi tempat belajar utama anak. Selain itu, orang tua pun punya peran penting untuk mendorong minat belajar anak. 

"Kita (orang tua) harus belajar akan revolusi pendidikan itu sendiri, jadi anak-anak harus belajar menjadi pengambil risiko karena anak harus berani mencoba mempelajari sendiri apa yang belum pernah dipelajari di pendidikan konvensional. Jangan selalu menunggu diajar oleh gurunya, tapi belajar sendiri dulu baru kalau tidak paham minta bantuan," ujarnya. 

Dosen yang juga lulusan ITB itu mengatakan mau tidak mau guru dan siswa harus memiliki derajat yang sama. Artinya guru bukan lagi sebagai pemegang kebenaran dari ilmu pengetahuan. Tapi justru guru adalah orang yang juga sama-sama belajar bersama anak. Demikian juga kita sebagai orang tua, sebaiknya memposisikan diri sebagai orang yang juga belum memiliki pengetahuan yang sempurna.

"Pada masa ini, anak-anak itu sudah merasa dirinya bisa dan lebih tahu daripada orang tuanya. Namun disaat yang sama, orang tua merasa juga lebih tahu. Inilah yang harus diubah. Jadi posisi orang tua yang merasa dirinya lebih tau dari anak, harus menjadi ingin tahu. Sebab penafsiran, penerapannya dalam kehidupan konteksnya sudah sangat berbeda. Bahkan cara ajarnya berbeda. Sekarang orang tua harus duduk bersama dengan anak untuk belajar hal yang baru," kata Profesor Iwan.
 
Menurut Prof. Iwan, kedepannya pola belajar anak lambat laun akan berubah. Misalnya saja, penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan yang diprediksi akan berlangsung permanen. Selain itu, interaksi murid dengan guru pun akan sangat berkurang, tatap muka langsung akan semakin dikurangi intensitasnya menjadi tidak reguler lagi karena adanya upaya menjaga jarak diperkirakan akan diteruskan setidaknya sampai tahun depan.

"Nantinya ruang kelas tidak sebesar sekarang, atau ruang kuliah pun tidak seluas sekarang. Intensitas tatap muka pun akan dikurangi dan anak dituntut lebih banyak belajar mandiri. Terutama di rumah," tutupnya. 

Sumber : kumparan.com
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar